Pada mata kuliah Perspektif Sosio-kultural dalam Pendidikan Indonesia topik 4 ini membahas tentang Pembelajaran pada ‘Zone Of Proximal Development (ZPD). Pada kesempatan ini saya akan melakukan refleksi pembelajaran pada Topik 4. Hal yang saya pikirkan adalah pada topik ini saya akan mempelajari tentang pembelajaran pada ZPD
Pada ruang mulai dari diri ini sebelum memulai proses pembelajaran yang saya pikirkan tentang ZPD ini guru memberikan bimbingan dan arahan kepada peserta didik untuk mencapai tujuan pembelajaran dengan maksimal. Pembelajaran dimulai dengan saya merefleksi pengalaman saya bekerja dalam sebuah tim. Pengalaman-pengalaman baru ketika berinteraksi dan bekerja sama dengan orang lain. Saya juga proses belajar yang terjadi pada manusia dari kecil sampai dewasa. Proses belajar setiap fase mulai dari bayi hingga dewasa, manusia dalam proses belajarnya selain diarahkan, dibimbing, dan diajari oleh orang lain baik dari kelurga terdekat maupun masyarakat disekitar lingkungannya, dalam proses belajarnya manusia juga dapat bekerja secara mandiri dalam proses perkembangannya melalui eksplorasi diri, belajar melalui pengalaman, dan mengembangkan keterampilan tertentu. Selain itu, terdapat video melatih interaksi sosial anak dalam autisme, dukungan dari keluarga, guru, dan teman sebaya sangat berpengaruh dalam perkembangan sosial dan interaksi dengan orang lain bagi anak autisme.
Guru memahami dan mempertimbangkan latar belakang, karakter, kebutuhan, perkembangan, dan pemahaman peserta didik, sehingga dapat menyusun tujuan yang ingin dicapai peserta didik selama proses pembelajaran. Guru memberikan bimbingan dan arahan kepada peserta didik dalam tingkatan pemahaman aktual (tingkat pemahaman peserta didik) hingga mencapai pemahaman yang diinginkan. Guru dan orang tua menggunakan simbol, gambar dengan keterangan tertulis sebagai scaffolding untuk membantu memberikan arahan sehingga tujuan pemahaman dapat dicapai.
Pada topik 4 ini menjelaskan pada Zone Of Proximal Development (ZPD) berfokus pada hubungan kolaborasi antara manusia yang dipahami dalam konteks sosial, budaya, dan latar belakangnya. Dalam pembelajaran pada ZPD memiliki peran besar pada proses dan capaian hasil belajar peserta didik. Guru memahami dan mempertimbangkan latar belakang, karakter, kebutuhan, perkembangan, dan pemahaman peserta didik, sehingga dapat menyusun tujuan yang ingin dicapai peserta didik selama proses pembelajaran. Guru memberikan bimbingan dan arahan kepada peserta didik dalam tingkatan pemahaman aktual (tingkat pemahaman peserta didik) hingga mencapai pemahaman yang diinginkan. Dengan demikian kolaborasi antara peserta didik dan guru yang baik dan positif sangat diperlukan untuk meningkatkan potensi peserta didik.
Berdasarkan pemaparan di atas, saya mempelajari bahwa pembelajaran pada ZPD juga memperhatikan karakteristik peserta didik dalam sehingga dapat menciptakan pembelajaran yang memenuhi kebutuhan dan berpusat pada peserta didik dengan bimbingan ahli (pendidik). ZPD memiliki tiga aspek yakni komponen yang menjadi dasar perhatian yaitu aspek kemampuan anak secara aktual (generality assumption), aspek asistensi atau mediasi dimana terjadi kolaborasi dengan orang dewasa maupun rekan sebaya (assistance assumption), dan aspek potensi kemampuan setelah terjadi kolaborasi (potential assumption).
ZPD memiliki dua tingkat perkembangan, yaitu: Tingkat perkembangan aktual, yaitu kemampuan pemecahan masalah secara mandiri, Tingkat perkembangan potensial, yaitu kemampuan pemecahan masalah yang dapat dicapai dengan bantuan orang lain. Konsep ZPD dapat diterapkan dalam pembelajaran kolaboratif. Salah satu teknik yang berkaitan dengan ZPD adalah scaffolding, yaitu teknik untuk mengubah level dukungan selama proses pengajaran. Guru dapat memberikan bantuan berupa petunjuk, peringatan, dorongan, atau menguraikan masalah ke dalam bentuk lain
Dalam ruang kolaborasi saya telah berdiskusi dan mempelajari lebih lanjut bersama teman-teman kelompok saya tentang pandangan masing-masing terkait pembelajaran pada Zone Of Proximal Development (ZPD) dalam kegiatan pembelajaran. Melalui kegiatan tersebut, membantu saya mengetahui ZPD dengan sudut pandang yang berbeda-beda. Hasil diskusi disajikan dan dipresentasikan dalam bentuk yang menarik, lebih lanjut diskusi dilakukan bersama dosen dan teman-teman kelas pada tahap demonstrasi kontekstual. Melalui tahap ini saya lebih memahami bahwa pembelajaran dalam ZPD juga mempertimbangkan latar belakang peserta didik agar menciptakan pembelajaran yang lebih efektif. Selain itu dalam memberikan bimbingan dan arahan kepada peserta didik yang sedang dalam tahap belajar, guru harus memiliki keterampilan sosial emosional seperti kesabaran, empati, dan ketekunan.
Berdasarkan yang sudah saya pahami pada topik ini, saya menjadi lebih memahami bahwa pembelajaran yang berpusat pada peserta didik tidak hanya memberikan kebebasan dalam belajar namun dalam pembelajaran peserta didik tetap diberikan arahan, bimbingan, dan pelatihan oleh guru. Selain itu dengan memahami perkembangan pemahaman peserta didik, guru harus memastikan bahwa tantangan belajar yang diberikan berada di dalam ZPD peserta didik yang sedang belajar, yaitu berada pada tahap maksimal pemahaman peserta didik. Hal yang ingin saya pelajari lebih lanjut adalah bagaiman penerapan pembelajaran pada Zone of Proximal Development (ZPD) tidak memberikan dampak ketergantungan peserta didik terhadap bimbingan dan arahan dari guru.
Hal yang sudah saya pelajari pada koneksi antar materi pada mata kuliah ini dengan mata kuliah lain adalah penerapan ZPD dalam pembelajaran dengan mempertimbangkan karakteristik peserta didik yang meliputi latar belakang, pemahaman, kebutuhan, dan lainnya. Pada koneksi antara materi, saya juga mengaitkan beberapa mata kuliah yang saling berkaitan dengan pemahaman peserta didik dan pembelajaran. Saya memahami bahwa materi ini berkaitan dengan materi filosofi pendidikan, pemahaman peserta didik dan pembelajarannya, perspektif sosiokultural dalam pendidikan Indonesia, serta prinsip pembelajaran dan asesmen. Keterkaitan materi tersebut bahwa memahami karakteristik peserta didik menjadi acuan dalam menyusun strategi pembelajaran yang memenuhi kebutuhan dan berpusat pada peserta didik. pemahaman peserta didik cenderung lebih dalam karena mereka ditantang sesuai dengan kemampuannya.Meningkatkan Pemahaman melalui Scaffolding, Menghubungkan Pengetahuan baru dan lama. ZPD juga berperan dengan guru sebagai fasilitator, yang tidak hanya menyampaikan materi, tetapi juga mendukung peserta didik dalam memahami dan menginternalisasi pengetahuan secara aktif. Dengan demikian,pembelajaran menjadi lebih bermakna dan relevan bagi peserta didik dan juga lebih optimal.
Keterkaitan ZPD dengan filosofi pendidikan Indonesia yakni Filosofi pendidikan di Indonesia menekankanpada pendekatan yang berpusat padapeserta didik. Pendidikan harus disesuaikandengan kebutuhan dan kemampuan pesertadidik. ZPD memberikan dasar teoritis, konsepZPD mengajarkan pentingnya memberikantantangan yang tepat dan dukungan yangsesuai kepada siswa agar mereka dapatberkembang sesuai dengan potensi mereka.Dengan memahami ZPD, guru dapat memberikan bantuan yang sesuai dengan kebutuhan individu siswa, sehingga proses pembelajaran lebih efektif dan bermakna. Selain itu, keterkaitan dengan pembelajaran berdiferensiasi dimana bertujuan menyediakan pengalaman belajar yang sesuai dengan tingkat perkembangan masing-masing peserta didik.
Dengan memahami ZPD mereka,guru dapat merancang strategi belajar yangsesuai. Guru dapat memberikan scaffoldingyang berbeda kepada setiap peserta didik. Strategi pembelajaran harus disesuaikandengan kebutuhan dalam ZPD peserta didik,pembelajaran dapat dilakukan dengandiferensiasi konten, proses, maupun produk. Sedangkan dengan prinsip pengajaran dan asesmen yakni ZPD membantumengarahkan bagaimanaasesmen dilakukan untukmendukung perkembanganpeserta didik. Dalam ZPD,penting untuk menilai prosespembelajaran, mengukurperkembangan belajar, dansesuai dengan tingkatperkembangan peserta didik.Dengan memadukan ZPDpeserta didik, asesmenmenjadi alat untukmemahami dan memperkuatproses belajar peserta didik.
Manfaat mempelajari
perspektif sosiokultural membantu saya memahami pentingnya pembelajaran pada
ZPD dengan berfokus pada pemberian bimbingan dan arahan kepada peserta didik
berdasarkan karakteristik mereka. Kesiapan saya saat ini berada pada skala 8
dari 10. Karena saya menyadari bahwa pembelajaran pada ZPD membutuhkan
pemahaman lebih lanjut tentang ZPD itu sendiri serta perlu membangun hubungan
yang baik dan positif dengan peserta didik. Hal yang perlu saya persiapkan
lebih lanjut untuk menerapkan dengan optimal pembelajaran pada ZPD adalah
mengidentifikasi kebutuhan belajar peserta sehingga dapat memberikan bimbingan
dan arahan yang tepat untuk meningkatkan potensi setiap peserta didik. Selain
itu, menyusun strategi pembelajaran yang dapat memenuhi kebutuhan dan berpusat
pada peserta didik sehingga terciptanya pembelajaran yang efektif dan bermakna.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar