Pada mata kuliah Perspektif Sosio-kultural dalam
Pendidikan Indonesia topik 6 ini membahas tentang isu-isu
penyelenggaraan scaffolding pada Zone Proximal Development (ZPD) dalam
penyelenggaraan pendidikan di Indonesia. Pada kesempatan ini saya akan
melakukan refleksi pembelajaran pada Topik 6. Hal yang saya pikirkan adalah
pada topik ini saya akan mempelajari tentang tantangan-tantangan pada penerapan
scaffolding pada ZPD dalam penyelenggaraan pendidikan di Indonesia.
Pada alur mulai dari diri ini sebelum memulai proses
pembelajaran yang saya pikirkan tentang Isu-isu
penyelenggaraan pendidikan dan pembelajaran di sekolah dalam perspektif sosial,
budaya, ekonomi dan politik. Pada alur ini saya merefleksikan bagaimana
kesulitan pada saat melaksanakan Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) dan
penerapan scaffolding apa yang saya gunakan. Scaffolding sebagai bantuan yang
saya berikan kepada peserta didik untuk mencapai tujuan pembelajaran yakni
dengan memberikan model atau contoh dan juga penjelasan pada saat PPL
Pembelajaran Pratik Terbimbing yang saya lakukan. Selain itu, juga disajikan
dua video tentang teknik modeling scaffolding. Pemberian scaffolding yang tepat
dapat meningkatkan keterampilan peserta didik dengan lebih optimal.
Pada topik 6 ini menjelaskan isu-isu penyelenggaraan pendidikan dan pembelajaran di sekolah dalam
perspektif sosial, budaya, ekonomi dan politik seperti interaksi sosial yang
kurang, dan keterbatasan dukungan sosial dan emosional yang terdapat di rumah
dan di lingkungan sosial masih menjadi kendala dalam praktik scaffolding
sehingga strategi yang sudah dirancang menjadi kurang efektif untuk memediasi jarak
aktual dan potensi kognitif. interaksi sosial yang positif termasuk ruang
belajar yang kondusif dan strategi scaffolding yang tepat dan bertahan memberikan
dampak positif dalam proses pembelajaran terutama bagi murid yang masih di dalam
level sekolah dasar. Selain itu, strategi scaffolding bersifat kontekstual
berdasarkan kondisi psikologis dan lingkungan anak sehingga memerlukan metode
atau pendekatan berdiferensiasi dimana satu metode belum tentu bisa dipakai
secara kolektif.
Tiga macam kerangka panduan yang bisa diterapkan dalam
penyusunan strategi scaffolding untuk untuk mengantisipasi hambatan maupun tantangan
dalam penerapan strategi scaffolding yaitu: logika (sense making), manajemen kerja
(process management), dan penguatan dan refleksi (articulation and reflection).
Logika (sense making) harus memediasi
siswa untuk membuat makna, definisi, atau arti dari informasi yang dimiliki
sebelumnya, manajemen kerja (process management) dalam bentuk manajemen waktu
dan beban tugas yang dapat dilakukan secara bertahap sehingga membantu proses
pembelajaran untuk berkembang, dan penguatan dan refleksi (articulation and
reflection) yang menitikberatkan pada proses evaluasi dan refleksi dimana terdapat
ruang dalam scaffolding untuk meninjau kembali pencapaian kompetensi..
Dalam ruang kolaborasi saya telah berdiskusi dan mempelajari lebih lanjut
bersama teman-teman kelompok saya tentang pandangan masing-masing terkait tantangan
penerapan scaffolding pada ZPD dalam pembelajaran. Melalui kegiatan tersebut
membantu saya dalam memahami bahwasanya dalam rancangan pembelajaran yang
pernah dibuat dalam praktik pembelajaran juga terdapat scaffolding dalam membantu
peserta didik. Hasil diskusi disajikan dan dipresentasikan dalam bentuk yang
menarik, lebih lanjut diskusi dilakukan bersama dosen dan teman-teman kelas
pada tahap demonstrasi kontekstual. Melalui tahap ini saya lebih memahami bahwa
panduan scaffolding dalam penerapannya pada kegiatan pembelajaran dapat efektif membantu meningkatkan pemahaman
dan keterampilan peserta didik serta membantu peserta didik yang memiliki
kesulitan belajar.
Berdasarkan
yang sudah saya pahami pada topik ini, saya lebih memahami bahwa pada penerapan
scaffolding dalam pembelajaran juga dapat memanfaatkan teknologi baik pada
kerangkan sense making, process management, maupun articulation and reflection.
Pemberian scaffolding bukan hanya melalui interaksi sosial antara guru dengan
peserta didik atau sesama peserta didik dengan teman sebaya saja, namun
pemanfaatan teknologi juga dapat diterapkan sebagai scaffolding untuk membantu
peserta didik dalam proses pembelajaran, merefleksi pembelajaran maupun untuk
mencapai tujuan pembelajaran secara maksimal.
Hal yang
sudah saya pelajari pada koneksi antar materi pada mata kuliah ini dengan mata
kuliah lain adalah Keterkaitan antara isu-isu penyelenggaraan pendidikan dan
aspek filosofi pendidikan, pemahaman peserta didik, pembelajaran
berdiferensiasi, prinsip pengajaran, serta asesmen menunjukkan bahwa pendidikan
tidak dapat dipisahkan dari konteks sosial, budaya, ekonomi, dan politik.
Sebagai mahasiswa yang mempelajari isu-isu ini, saya memahami bahwa menjadi
guru yang baik tidak hanya tentang menguasai materi ajar, tetapi juga tentang
menjadi fasilitator yang mampu memahami kebutuhan siswa, menciptakan lingkungan
belajar inklusif, dan memberikan peluang bagi semua siswa untuk berkembang
sesuai potensinya.
Manfaat
pembelajaran perspektif sosiokultural pada topik isu-isu penyelenggaraan
scaffolding pada Zone Proximal Development (ZPD) dalam penyelenggaraan
pendidikan di Indonesia untuk kesiapan saya sebagai guru yakni dengan menerapkan
scaffolding yang tepat sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik peserta didik
untuk meningkatkan keterampilan dan pengetahuan peserta didik secara maksimal
dan memberikan pembelajaran yang optimal kepada peserta didik. Kesiapan saya
saat ini berada pada skala 8 dari 10. Karena saya menyadari isu-isu
penyelenggaraan scaffolding pada Zone Proximal Development (ZPD) dalam
penyelenggaraan pendidikan membutuhkan pemahaman lebih lanjut sehingga dapat
melaksanakan pembelajaran secara optimal dan tujuan pembelajaran dapat tercapai
secara maksimal. Hal yang perlu saya persiapkan lebih lanjut untuk menerapkan scaffolding
pada ZPD dalam pembelajaran yakni mengidentifikasi kebutuhan belajar peserta,
karakteristik peserta didik sehingga dapat menentukan scaffolding yang tepat
sesuai dengan kesulitan belajar peserta didik yang beraga.