Sabtu, 07 Desember 2024

AKSI NYATA TOPIK 6 - PERSPEKTIF SOSIOKULTURAL DALAM PENDIDIKAN INDONESIA "Isu-Isu Penyelenggaraan Scaffolding pada ZDP dalam Penyelenggaraan Pendidikan di Sekolah"

 

Pada mata kuliah Perspektif Sosio-kultural dalam Pendidikan Indonesia topik 6 ini membahas tentang isu-isu penyelenggaraan scaffolding pada Zone Proximal Development (ZPD) dalam penyelenggaraan pendidikan di Indonesia. Pada kesempatan ini saya akan melakukan refleksi pembelajaran pada Topik 6. Hal yang saya pikirkan adalah pada topik ini saya akan mempelajari tentang tantangan-tantangan pada penerapan scaffolding pada ZPD dalam penyelenggaraan pendidikan di Indonesia.



Pada alur mulai dari diri ini sebelum memulai proses pembelajaran yang saya pikirkan tentang Isu-isu penyelenggaraan pendidikan dan pembelajaran di sekolah dalam perspektif sosial, budaya, ekonomi dan politik. Pada alur ini saya merefleksikan bagaimana kesulitan pada saat melaksanakan Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) dan penerapan scaffolding apa yang saya gunakan. Scaffolding sebagai bantuan yang saya berikan kepada peserta didik untuk mencapai tujuan pembelajaran yakni dengan memberikan model atau contoh dan juga penjelasan pada saat PPL Pembelajaran Pratik Terbimbing yang saya lakukan. Selain itu, juga disajikan dua video tentang teknik modeling scaffolding. Pemberian scaffolding yang tepat dapat meningkatkan keterampilan peserta didik dengan lebih optimal.

            Pada topik 6 ini menjelaskan isu-isu penyelenggaraan pendidikan dan pembelajaran di sekolah dalam perspektif sosial, budaya, ekonomi dan politik seperti interaksi sosial yang kurang, dan keterbatasan dukungan sosial dan emosional yang terdapat di rumah dan di lingkungan sosial masih menjadi kendala dalam praktik scaffolding sehingga strategi yang sudah dirancang menjadi kurang efektif untuk memediasi jarak aktual dan potensi kognitif. interaksi sosial yang positif termasuk ruang belajar yang kondusif dan strategi scaffolding yang tepat dan bertahan memberikan dampak positif dalam proses pembelajaran terutama bagi murid yang masih di dalam level sekolah dasar. Selain itu, strategi scaffolding bersifat kontekstual berdasarkan kondisi psikologis dan lingkungan anak sehingga memerlukan metode atau pendekatan berdiferensiasi dimana satu metode belum tentu bisa dipakai secara kolektif.

Tiga macam kerangka panduan yang bisa diterapkan dalam penyusunan strategi scaffolding untuk untuk mengantisipasi hambatan maupun tantangan dalam penerapan strategi scaffolding yaitu: logika (sense making), manajemen kerja (process management), dan penguatan dan refleksi (articulation and reflection).  Logika (sense making) harus memediasi siswa untuk membuat makna, definisi, atau arti dari informasi yang dimiliki sebelumnya, manajemen kerja (process management) dalam bentuk manajemen waktu dan beban tugas yang dapat dilakukan secara bertahap sehingga membantu proses pembelajaran untuk berkembang, dan penguatan dan refleksi (articulation and reflection) yang menitikberatkan pada proses evaluasi dan refleksi dimana terdapat ruang dalam scaffolding untuk meninjau kembali pencapaian kompetensi..

Dalam ruang kolaborasi saya telah berdiskusi dan mempelajari lebih lanjut bersama teman-teman kelompok saya tentang pandangan masing-masing terkait tantangan penerapan scaffolding pada ZPD dalam pembelajaran. Melalui kegiatan tersebut membantu saya dalam memahami bahwasanya dalam rancangan pembelajaran yang pernah dibuat dalam praktik pembelajaran juga terdapat scaffolding dalam membantu peserta didik. Hasil diskusi disajikan dan dipresentasikan dalam bentuk yang menarik, lebih lanjut diskusi dilakukan bersama dosen dan teman-teman kelas pada tahap demonstrasi kontekstual. Melalui tahap ini saya lebih memahami bahwa panduan scaffolding dalam penerapannya pada kegiatan pembelajaran  dapat efektif membantu meningkatkan pemahaman dan keterampilan peserta didik serta membantu peserta didik yang memiliki kesulitan belajar.

Berdasarkan yang sudah saya pahami pada topik ini, saya lebih memahami bahwa pada penerapan scaffolding dalam pembelajaran juga dapat memanfaatkan teknologi baik pada kerangkan sense making, process management, maupun articulation and reflection. Pemberian scaffolding bukan hanya melalui interaksi sosial antara guru dengan peserta didik atau sesama peserta didik dengan teman sebaya saja, namun pemanfaatan teknologi juga dapat diterapkan sebagai scaffolding untuk membantu peserta didik dalam proses pembelajaran, merefleksi pembelajaran maupun untuk mencapai tujuan pembelajaran secara maksimal.

Hal yang sudah saya pelajari pada koneksi antar materi pada mata kuliah ini dengan mata kuliah lain adalah Keterkaitan antara isu-isu penyelenggaraan pendidikan dan aspek filosofi pendidikan, pemahaman peserta didik, pembelajaran berdiferensiasi, prinsip pengajaran, serta asesmen menunjukkan bahwa pendidikan tidak dapat dipisahkan dari konteks sosial, budaya, ekonomi, dan politik. Sebagai mahasiswa yang mempelajari isu-isu ini, saya memahami bahwa menjadi guru yang baik tidak hanya tentang menguasai materi ajar, tetapi juga tentang menjadi fasilitator yang mampu memahami kebutuhan siswa, menciptakan lingkungan belajar inklusif, dan memberikan peluang bagi semua siswa untuk berkembang sesuai potensinya.

Manfaat pembelajaran perspektif sosiokultural pada topik isu-isu penyelenggaraan scaffolding pada Zone Proximal Development (ZPD) dalam penyelenggaraan pendidikan di Indonesia untuk kesiapan saya sebagai guru yakni dengan menerapkan scaffolding yang tepat sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik peserta didik untuk meningkatkan keterampilan dan pengetahuan peserta didik secara maksimal dan memberikan pembelajaran yang optimal kepada peserta didik. Kesiapan saya saat ini berada pada skala 8 dari 10. Karena saya menyadari isu-isu penyelenggaraan scaffolding pada Zone Proximal Development (ZPD) dalam penyelenggaraan pendidikan membutuhkan pemahaman lebih lanjut sehingga dapat melaksanakan pembelajaran secara optimal dan tujuan pembelajaran dapat tercapai secara maksimal. Hal yang perlu saya persiapkan lebih lanjut untuk menerapkan scaffolding pada ZPD dalam pembelajaran yakni mengidentifikasi kebutuhan belajar peserta, karakteristik peserta didik sehingga dapat menentukan scaffolding yang tepat sesuai dengan kesulitan belajar peserta didik yang beraga.  

 

Minggu, 01 Desember 2024

KSI NYATA TOPIK 5 - PERSPEKTIF SOSIOKULTURAL DALAM PENDIDIKAN INDONESIA "SCAFFOLDING PADA ZONE OF PROXIMAL DEVELOPMENT (ZPD)"

             Pada mata kuliah Perspektif Sosio-kultural dalam Pendidikan Indonesia topik 5 ini membahas tentang Scaffolding pada Zone Of Proximal Development (ZPD). Pada kesempatan ini saya akan melakukan refleksi pembelajaran pada Topik 5. Hal yang saya pikirkan adalah pada topik ini saya akan mempelajari tentang Scaffolding pada Zone Of Proximal Development (ZPD).

Pada alur mulai dari diri ini sebelum memulai proses pembelajaran yang saya pikirkan tentang scaffolding yakni scaffolding sebagai bantuan yang diberikan kepada peserta didik untuk mencapai tujuan pembelajaran dengan maksimal. Scaffolding yang diberikan oleh guru disesuaikan dengan kemampuan kognitif peserta didik. Pada alur ini mengajak saya untuk merefleksi diri pada saat menjadi seorang pelajar kesulitan belajar yang saya alami pada saat pembelajaran mendapatkan bantuan dari guru untuk dapat mencapai tujuan pembelajaran secara maksimal.



            Pada topik 5 ini menjelaskan Scaffolding menitikberatkan proses interaksi yang dilakukan oleh orang guru selama tahap awal pembelajaran, kemudian mengurangi bantuan tersebut ketika siswa mampu mengerjakan sendiri. Guru memberikan bimbingan dan arahan kepada peserta didik dalam tingkatan pemahaman aktual (tingkat pemahaman peserta didik) hingga mencapai pemahaman yang diinginkan. Berdasarkan media scaffolding, terdapat 6 macam strategi yaitu pemberiansaran/masukan, petunjuk, instruksi, pemaparan/penjelasan, model atau contoh, danpertanyaan pemantik. Apabila seorang guru ingin melihat tujuan yang ingin dicapai, makastrategi scaffolding dapat disesuaikan dengan kebutuhan anak dalam pengembanganmetacognitive (metacognitive), kognitif (cognitive), dan sikap/tingkah laku/motivasi (affect).

Scaffolding berfungsi sebagai bantuan atau dorongan untuk meningkatkan rasa keingintahuan dan ketertarikan seorang anak dalam menyelesaikan tugas atau masalah, menurunkan level kesulitan tugas yang sesuai dengan kemampuan kompetensi seorang anak ketika dia bisa berhasil menyelesaikan masalah secara mandiri (reduction in degrees of freedom), memonitor arah dan tujuan pembelajaran dalam menyelesaikan tugas agar tetap konsisten (maintenance the direction), membuat indikasi perbedaan antara kompetensi yang diinginkan dan yang telah dicapai dalam proses belajar anak sebagai kegiatan refleksi dan evaluasi (marking critical features), mengontrol level kesulitan masalah atau tugas sehingga motivasi dan keinginan belajar tidak hilang dalam proses kolaborasi orang dewasa dan anak (control on the child’s level frustration), dan demonstrasi, meniru, atau imitasi (modeling) dengan menitikberatkan pada cara-cara penyelesaian masalah secara umum dengan formula atau konsep sehingga seorang anak dapat memiliki ruang independen untuk melakukan aksi atau tindakan secara mandiri.

Dalam ruang kolaborasi saya telah berdiskusi dan mempelajari lebih lanjut bersama teman-teman kelompok saya tentang pandangan masing-masing terkait konsep Scaffolding pada Zone Of Proximal Development (ZPD). Melalui kegiatan tersebut, membantu saya mengetahui pemberian scaffolding pada kesulitan belajar peserta didik dengan sudut pandang yang berbeda-beda. Hasil diskusi disajikan dan dipresentasikan dalam bentuk yang menarik, lebih lanjut diskusi dilakukan bersama dosen dan teman-teman kelas pada tahap demonstrasi kontekstual. Melalui tahap ini saya lebih memahami bahwa scaffolding bukan hanya dapat diberikan oleh guru, namun juga dapat diberikan oleh orang tua dan teman sejawat dalam kelas. Selain itu dalam memberikan bimbingan dan arahan kepada peserta didik yang sedang dalam tahap belajar, guru harus memiliki keterampilan sosial emosional seperti kesabaran, empati, dan ketekunan.

Berdasarkan yang sudah saya pahami pada topik ini, saya lebih memahami bahwa strategi, metode, dan juga teknik pembelajaran scaffolding  pada ZPD, banyak hal yang harus dipersiapkan oleh guru dalam melaksanakan pembelajaran. Guru juga harus memperhatikan karakteristik dari peserta didik dan kebutuhan belajar peserta didik sesuai dengan kebutuhan belajarnya. pembelajaran yang berpusat pada peserta didik tidak hanya memberikan kebebasan dalam belajar namun dalam pembelajaran peserta didik tetap diberikan arahan, bimbingan, dan pelatihan oleh guru. Selain itu dengan memahami perkembangan pemahaman peserta didik, guru harus memastikan bahwa tantangan belajar yang diberikan berada di dalam peserta didik. Hal yang ingin saya pelajari lebih lanjut adalah bagaiman guru dapat memastikan setiap peserta didik mendapatkan bantuan atau scaffolding sesuai dengan ZPD tanpa mengabarkan kebutuhan belajar peserta didik dan bagaimana seorang guru dapat memastikan aspek pada pembelajaran melalui scaffolding pada ZPD sudah sesuai dengan kebutuhan belajar peserta didik.

Hal yang sudah saya pelajari pada koneksi antar materi pada mata kuliah ini dengan mata kuliah lain adalah strategi, metode, dan juga teknik pembelajaran scaffolding  pada ZPD dengan mempertimbangkan karakteristik peserta didik yang meliputi latar belakang, pemahaman, kebutuhan, dan lainnya. Pada koneksi antara materi, saya juga mengaitkan beberapa mata kuliah yang saling berkaitan dengan pemahaman peserta didik dan pembelajaran. Saya memahami bahwa materi ini berkaitan dengan materi filosofi pendidikan, pemahaman peserta didik dan pembelajarannya, perspektif sosiokultural dalam pendidikan Indonesia, serta prinsip pembelajaran dan asesmen.

Koneksi antara strategi, metode, dan juga teknik pembelajaran scaffolding  pada ZPD dengan filosofi pendidikan yakni pemberian scaffolding memberikan ruang bagi siswa untuk berkembang secara personal, sesuai dengan potensi dan kecepatan mereka masing-masing selaras dengan filosofi pendidikan Indonesia dimana Pendidikan yang bersifat mendukung dan mendorong kemandirian siswa, sesuai dengan ajaran Ki Hajar Dewantara. Kaitan antara strategi, metode, dan juga teknik pembelajaran scaffolding  pada ZPD dengan pembelajaran berdiferensiasi yakni dalam pembelajaran berdiferensiasi, scaffolding digunakan untuk memberikan dukungan yang spesifik kepada peserta didik sesuai dengan profil belajarnya, membantu mereka mencapai tujuan belajar secara optimal. Scaffolding menjadi alat strategis dalam pembelajaran berdiferensiasi, sesuai ZPD masing-masing peserta didik.

Keterkaitan antara strategi, metode, dan juga teknik pembelajaran scaffolding  pada ZPD dengan pemahaman pesert didik dan pembelajarannya yakni Scaffolding berperan penting dalam membangun pemahaman peserta didik dengan memberikan bimbingan yang sesuai kebutuhan mereka hingga mereka mampu memahami materi secara mandiri.  dan mengembangkan kemampuan berpikir kritis serta mandiri. Dengan scaffolding, pemahaman siswa tidak hanya bersifat sementara, tetapi juga mendalam dan aplikatif. Sedangkan keterkaitan antara strategi, metode, dan juga teknik pembelajaran scaffolding  pada ZPD dengan prinsip pengajaran dan asesmen yakni Scaffolding menggunakan hasil asesmen sebagai umpan balik untuk memperbaiki proses belajar, hasil asesmen juga untuk menentukan jenis dan tingkat dukungan yang diperlukan siswa pada tahap tertentu dan menyesuaikan pendekatan pengajaran agar siswa tetap berada dalam zone of proximal development (ZPD).

Manfaat pembelajaran perspektif sosiokultural untuk kesiapan saya sebagai guru yakni dengan berfokus pada pemberian bimbingan dan arahan kepada peserta didik berdasarkan karakteristik mereka. Kesiapan saya saat ini berada pada skala 8 dari 10. Karena saya menyadari bahwa strategi, metode, dan juga teknik pembelajaran scaffolding  pada ZPD membutuhkan pemahaman lebih lanjut sehingga dapat melaksanakan pembelajaran secara optimal dan tujuan pembelajaran dapat tercapai secara maksimal. Hal yang perlu saya persiapkan lebih lanjut untuk menerapkan dengan optimal strategi, metode, dan juga teknik pembelajaran scaffolding  pada ZPD adalah mengidentifikasi kebutuhan belajar peserta sehingga dapat memberikan bimbingan dan arahan yang tepat untuk meningkatkan potensi setiap peserta didik dan untuk memberikan pembelajaran yang optimal dan pengalaman belajar yang bermakna bagi peserta didik.