Senin, 16 September 2024

AKSI NYATA TOPIK 1 PERSPEKTIF SOSIOKULTURAL DALAM PENDIDIKAN DI INDONESIA

 

        Pada mata kuliah Perspektif Sosiokultural dalam Pendidikan di Indonesia terdiri Topik 1 ini membahas tentang Pengantar Perspektif Sosial, Budaya, Ekonomi, dan Politik dalam Pendidikan Indonesia

        Pada kesempatan ini saya akan melakukan refleksi pembelajaran pada Topik 1 yaitu Pengantar Perspektif Sosial, Budaya, Ekonomi, dan Politik dalam Pendidikan Indonesia. Berdasarkan judul pada Topik 1, yang dipelajari adalah bagaimana pengaruh perseptif sosial, budaya, ekonomi, dan politik pada sistem pendidikan di Indonesia. Sebagai calon guru, melalui topik ini saya akan belajar memahami peserta didik sesuai dengan latar belakang sosial, budaya, dan ekonomi yang berbeda-beda.



   Pada alur mulai diri, banyak hal yang saya pelajari. Refleksi dimulai dengan pembelajaran dengan melihat pengalaman pribadi melalui beberapa pertanyaan pemantik bagaimana struktur sosial masyarakat di sekitar lingkungan tempat tinggal dan perbedaan kondisi lingkungan disekitar tempat tinggal. Hal yang saya pahami dari alur ini adalah dengan mengenal kondisi lingkungan dan struktur sosial masyarakat di sekitar tempat tinggal dapat membuat seseorang lebih memahami karakteristik dari lingkungan, tatanan masyarakat dan karakteristik masyarakat yang bertempat di lingkungan tersebut.

        Pada tahap eksplorasi konsep melalui tayangan video dan beberapa pertanyaan banyak hal yang saya pelajari pada Topik ini. Hal yang saya pahami pada topik ini adalah terdapat pengaruh faktor sosial, budaya, ekonomi, dan politik dalam proses pendidikan dari zaman sebelum merdeka hingga saat ini. Sejarah perjalanan pendidikan sebelum kemerdekaan, menggambarkan penyelenggaraan pendidikan yang terbatas dan pendidikan tidak bertujuan untuk mencerdaskan masyarakat Indonesia tetapi untuk mempertahankan kekuasaan dan kepentingan pemerintahan Belanda maupun Jepang. Sekolah-sekolah yang didirikan beberapa bupati pada masa penjajahan kolonial Belanda menginisiasi sekolah-sekolah untuk calon pegawai di Kabupaten. Sistem pendidikan yang sepenuhnya di atur oleh pemerintahan Belanda dan Jepang, menjadikan pemerintahan penjajah secara leluasa mengintegrasikan budaya kolonial dan Jepang pada masyarakat Indonesia. Sekolah Bumi putera yang didirikan pada masa itu yang hanya terdiri dari tiga kelas pun hanya mengajarkan membaca, menulis, dan berhitung seperlunya saja. Pada masa itu juga, Ki Hajar Dewantara sebagai Bapak Pendidikan di Indonesia mendirikan sekolah Taman Siswa dengan tujuan ingin memajukan pendidikan di Indonesia hingga saat ini setelah Indonesia Merdeka, walaupun dalam prosesnya pendidikan Indonesia tidak terlepas dari pengaruh faktor sosial, budaya, ekonomi dan politik.

        Pada alur Ruang kolaborasi, saya berdiskusi dengan teman-teman kelompok tentang 5 video inspirasi dalam pendidikan di berbagai daerah di Indonesia. Setelah menyimak video yang disajikan, kami memahami bahwa pendidikan di Indonesia masih belum merata dalam penerapan sarana dan prasarana. Kami menyadari bahwa pembelajaran tidak hanya berindikasi pada ruang kelas dan buku, namun seorang guru dapat memanfaatkan lingkungan sebagai sumber dan media pembelajaran yang tiada batas. Dengan menyesuaikan karakteristik peserta didik dan mengintegrasikan sosial-budaya dalam pembelajaran, guru dapat menciptakan pembelajaran yang interaktif dan bermakna serta penuh semangat. Berdasarkan video-video yang ditampilkan, dapat dilihat bahwa aspek sosial, budaya, ekonomi, dan politik memberikan pengaruh terhadap pelaksanaan pendidikan di Indonesia bahkan dalam ruang lingkung yang lebih kecil yaitu dalam kelas.

    Melalui demonstrasi kontekstual, saya memperoleh pengalaman belajar yang bermakna ketika berdiskusi dengan teman-teman yang memiliki pengalaman, pemikiran, dan pengetahuan yang berbeda-beda. Diskusi yang kami lakukan bersama mencapai kesepakatan untuk menyelesaikan tugas dan disajikan dalam bentuk yang menarik sehingga mudah untuk dipahami. Melalui proses ini menjadi wadah untuk saya dan teman-teman mengembangkan keterampilan komunikasi dan kolaborasi yang baik dengan teman kelompok, teman sekelas, maupun dosen. Presentasi yang dilakukan oleh kelompok lain sebagai pembuka diskusi yang kami lakukan dalam kelas. kegiatan saling mengajukan pertanyaan dan memberikan tanggapan antar kelompok dan individu mampu mengembangkan keterampilan berpikir kritis, analitis, dan komunikasi yang menjadi pengalaman yang bermakna pada demonstrasi kontekstual ini.

    Pada alur elaborasi pemahaman, saya memahami bahwasanya Pendidikan multikulturalisme menanamkan pentingnya menyadari dan menghargai keberagaman setiap individu (peserta didik). Keberagaman dapat meliputi etnis, suku, budaya dan latar belakang yang menjadi identitas dari setiap individu. Sebagai calon guru harus mampu mengintegrasikan pemahaman bahwa terdapat perbedaan setiap peserta didik dalam kegiatan pembelajaran sehingga dapat menciptakan lingkungan belajar yang positif. Dengan demikian guru secara tidak langsung menekankan sikap dan perilaku bertanggung jawab, menghargai, dan menghormati pada peserta didik.

        Pemahaman baru yang saya dapatkan, yakni guru memiliki peran yang sangat penting dalam mendorong perubahan di dunia pendidikan. Saya juga lebih menyadari bahwa aspek seperti sosial, budaya, ekonomi, dan politik memberikan pengaruh yang cukup besar dalam pendidikan. Dengan memahami konteks tersebut, memberikan pandangan yang lebih dalam pada saya terkait merancang pembelajaran dengan lebih efektif untuk menanggapi perbedaan setiap peserta didik. Hal yang ingin saya pelajari lebih lanjut adalah bagaimana cara menerapkan konsep-konsep dalam perspektif sosiokultural ini dalam merancang dan melaksanakan strategi pembelajaran yang dapat mendukung keberagaman peserta didik dalam proses pembelajaran

     Pada alur Koneksi antar materi, Kaitan perspektif sosiologi dengan materi pemahaman peserta didik dan pembelajarannya adalah Peserta didik memiliki latar belakang sosial, budaya, ekonomi dan politik yang berbeda-beda sehingga guru harus mampu memahami karakteristik setiap peserta didik dengan baik agar terciptanya pembelajaran yang efektif dan berpusat pada peserta didik. Guru dapat menciptakan suasana belajar peserta didik yang sesuai dengan lingkungannya. Dan guru dapat memahami kebutuhan, kesiapan, dan kesesuaian masing-masing peserta didik sesuai dengan karakteristinya. Koneksi antara perspektif sosiokulitural dan prinsip pengajaran serta asesmen di pendidikan Indonesia sangat penting untuk menciptakan lingkungan belajar yang inklusif dan relevan bagi semua siswa. Dengan memperhatikan latar belakang sosial dan budaya siswa, pendidik dapat merancang pengalaman belajar yang lebih efektif dan bermakna. Kaitan perspektif sosiokultural dengan pembelajaran berdiferensiasi terletak pada kemampuan guru untuk memahami dan menghargai keberagaman, karakteristik dan latar belakang peserta didik serta menyesuaikan strategi pembelajaran yang digunakan agar lebih inklusif dan efektif. Dengan demikian guru mampu memberikan pengalaman pembelajaran yang bermakna dan berharga kepada peserta didik sesuai dengan kebutuhan masing-masing peserta didik.

    Manfaat saya mempelajari topik ini untuk kesiapan saya menjadi guru adalah mendapatkan pengetahuan dan pengalaman belajar selam proses pembelajaran pada topik ini. Melalui diskusi dan video yang disajikan membuat saya sadar bahwa aspek sosial, budaya, ekonomi, dan politik memberikan pengaruh terhadap pendidikan dan pembelajaran. Guru tidak hanya mentransfer pengetahuan, tetapi juga sebagai mediator yang menjadi jembatan peserta didik kepada pengetahuan, keterampilan, dan karakter yang baik. Guru juga sebagai fasilitator peserta didik dalam memberikan pembelajaran yang lebih inovatif dan kreatif. Selain itu dalam proses pembelajaran guru harus menyiapkan pendekatan dan strategi pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik dan latar belakang peserta didik, sehingga dapat menciptakan pembelajaran yang efektif, relevan, dan berpusat pada peserta didik.