Sabtu, 07 Desember 2024

AKSI NYATA TOPIK 6 - PERSPEKTIF SOSIOKULTURAL DALAM PENDIDIKAN INDONESIA "Isu-Isu Penyelenggaraan Scaffolding pada ZDP dalam Penyelenggaraan Pendidikan di Sekolah"

 

Pada mata kuliah Perspektif Sosio-kultural dalam Pendidikan Indonesia topik 6 ini membahas tentang isu-isu penyelenggaraan scaffolding pada Zone Proximal Development (ZPD) dalam penyelenggaraan pendidikan di Indonesia. Pada kesempatan ini saya akan melakukan refleksi pembelajaran pada Topik 6. Hal yang saya pikirkan adalah pada topik ini saya akan mempelajari tentang tantangan-tantangan pada penerapan scaffolding pada ZPD dalam penyelenggaraan pendidikan di Indonesia.



Pada alur mulai dari diri ini sebelum memulai proses pembelajaran yang saya pikirkan tentang Isu-isu penyelenggaraan pendidikan dan pembelajaran di sekolah dalam perspektif sosial, budaya, ekonomi dan politik. Pada alur ini saya merefleksikan bagaimana kesulitan pada saat melaksanakan Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) dan penerapan scaffolding apa yang saya gunakan. Scaffolding sebagai bantuan yang saya berikan kepada peserta didik untuk mencapai tujuan pembelajaran yakni dengan memberikan model atau contoh dan juga penjelasan pada saat PPL Pembelajaran Pratik Terbimbing yang saya lakukan. Selain itu, juga disajikan dua video tentang teknik modeling scaffolding. Pemberian scaffolding yang tepat dapat meningkatkan keterampilan peserta didik dengan lebih optimal.

            Pada topik 6 ini menjelaskan isu-isu penyelenggaraan pendidikan dan pembelajaran di sekolah dalam perspektif sosial, budaya, ekonomi dan politik seperti interaksi sosial yang kurang, dan keterbatasan dukungan sosial dan emosional yang terdapat di rumah dan di lingkungan sosial masih menjadi kendala dalam praktik scaffolding sehingga strategi yang sudah dirancang menjadi kurang efektif untuk memediasi jarak aktual dan potensi kognitif. interaksi sosial yang positif termasuk ruang belajar yang kondusif dan strategi scaffolding yang tepat dan bertahan memberikan dampak positif dalam proses pembelajaran terutama bagi murid yang masih di dalam level sekolah dasar. Selain itu, strategi scaffolding bersifat kontekstual berdasarkan kondisi psikologis dan lingkungan anak sehingga memerlukan metode atau pendekatan berdiferensiasi dimana satu metode belum tentu bisa dipakai secara kolektif.

Tiga macam kerangka panduan yang bisa diterapkan dalam penyusunan strategi scaffolding untuk untuk mengantisipasi hambatan maupun tantangan dalam penerapan strategi scaffolding yaitu: logika (sense making), manajemen kerja (process management), dan penguatan dan refleksi (articulation and reflection).  Logika (sense making) harus memediasi siswa untuk membuat makna, definisi, atau arti dari informasi yang dimiliki sebelumnya, manajemen kerja (process management) dalam bentuk manajemen waktu dan beban tugas yang dapat dilakukan secara bertahap sehingga membantu proses pembelajaran untuk berkembang, dan penguatan dan refleksi (articulation and reflection) yang menitikberatkan pada proses evaluasi dan refleksi dimana terdapat ruang dalam scaffolding untuk meninjau kembali pencapaian kompetensi..

Dalam ruang kolaborasi saya telah berdiskusi dan mempelajari lebih lanjut bersama teman-teman kelompok saya tentang pandangan masing-masing terkait tantangan penerapan scaffolding pada ZPD dalam pembelajaran. Melalui kegiatan tersebut membantu saya dalam memahami bahwasanya dalam rancangan pembelajaran yang pernah dibuat dalam praktik pembelajaran juga terdapat scaffolding dalam membantu peserta didik. Hasil diskusi disajikan dan dipresentasikan dalam bentuk yang menarik, lebih lanjut diskusi dilakukan bersama dosen dan teman-teman kelas pada tahap demonstrasi kontekstual. Melalui tahap ini saya lebih memahami bahwa panduan scaffolding dalam penerapannya pada kegiatan pembelajaran  dapat efektif membantu meningkatkan pemahaman dan keterampilan peserta didik serta membantu peserta didik yang memiliki kesulitan belajar.

Berdasarkan yang sudah saya pahami pada topik ini, saya lebih memahami bahwa pada penerapan scaffolding dalam pembelajaran juga dapat memanfaatkan teknologi baik pada kerangkan sense making, process management, maupun articulation and reflection. Pemberian scaffolding bukan hanya melalui interaksi sosial antara guru dengan peserta didik atau sesama peserta didik dengan teman sebaya saja, namun pemanfaatan teknologi juga dapat diterapkan sebagai scaffolding untuk membantu peserta didik dalam proses pembelajaran, merefleksi pembelajaran maupun untuk mencapai tujuan pembelajaran secara maksimal.

Hal yang sudah saya pelajari pada koneksi antar materi pada mata kuliah ini dengan mata kuliah lain adalah Keterkaitan antara isu-isu penyelenggaraan pendidikan dan aspek filosofi pendidikan, pemahaman peserta didik, pembelajaran berdiferensiasi, prinsip pengajaran, serta asesmen menunjukkan bahwa pendidikan tidak dapat dipisahkan dari konteks sosial, budaya, ekonomi, dan politik. Sebagai mahasiswa yang mempelajari isu-isu ini, saya memahami bahwa menjadi guru yang baik tidak hanya tentang menguasai materi ajar, tetapi juga tentang menjadi fasilitator yang mampu memahami kebutuhan siswa, menciptakan lingkungan belajar inklusif, dan memberikan peluang bagi semua siswa untuk berkembang sesuai potensinya.

Manfaat pembelajaran perspektif sosiokultural pada topik isu-isu penyelenggaraan scaffolding pada Zone Proximal Development (ZPD) dalam penyelenggaraan pendidikan di Indonesia untuk kesiapan saya sebagai guru yakni dengan menerapkan scaffolding yang tepat sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik peserta didik untuk meningkatkan keterampilan dan pengetahuan peserta didik secara maksimal dan memberikan pembelajaran yang optimal kepada peserta didik. Kesiapan saya saat ini berada pada skala 8 dari 10. Karena saya menyadari isu-isu penyelenggaraan scaffolding pada Zone Proximal Development (ZPD) dalam penyelenggaraan pendidikan membutuhkan pemahaman lebih lanjut sehingga dapat melaksanakan pembelajaran secara optimal dan tujuan pembelajaran dapat tercapai secara maksimal. Hal yang perlu saya persiapkan lebih lanjut untuk menerapkan scaffolding pada ZPD dalam pembelajaran yakni mengidentifikasi kebutuhan belajar peserta, karakteristik peserta didik sehingga dapat menentukan scaffolding yang tepat sesuai dengan kesulitan belajar peserta didik yang beraga.  

 

Minggu, 01 Desember 2024

KSI NYATA TOPIK 5 - PERSPEKTIF SOSIOKULTURAL DALAM PENDIDIKAN INDONESIA "SCAFFOLDING PADA ZONE OF PROXIMAL DEVELOPMENT (ZPD)"

             Pada mata kuliah Perspektif Sosio-kultural dalam Pendidikan Indonesia topik 5 ini membahas tentang Scaffolding pada Zone Of Proximal Development (ZPD). Pada kesempatan ini saya akan melakukan refleksi pembelajaran pada Topik 5. Hal yang saya pikirkan adalah pada topik ini saya akan mempelajari tentang Scaffolding pada Zone Of Proximal Development (ZPD).

Pada alur mulai dari diri ini sebelum memulai proses pembelajaran yang saya pikirkan tentang scaffolding yakni scaffolding sebagai bantuan yang diberikan kepada peserta didik untuk mencapai tujuan pembelajaran dengan maksimal. Scaffolding yang diberikan oleh guru disesuaikan dengan kemampuan kognitif peserta didik. Pada alur ini mengajak saya untuk merefleksi diri pada saat menjadi seorang pelajar kesulitan belajar yang saya alami pada saat pembelajaran mendapatkan bantuan dari guru untuk dapat mencapai tujuan pembelajaran secara maksimal.



            Pada topik 5 ini menjelaskan Scaffolding menitikberatkan proses interaksi yang dilakukan oleh orang guru selama tahap awal pembelajaran, kemudian mengurangi bantuan tersebut ketika siswa mampu mengerjakan sendiri. Guru memberikan bimbingan dan arahan kepada peserta didik dalam tingkatan pemahaman aktual (tingkat pemahaman peserta didik) hingga mencapai pemahaman yang diinginkan. Berdasarkan media scaffolding, terdapat 6 macam strategi yaitu pemberiansaran/masukan, petunjuk, instruksi, pemaparan/penjelasan, model atau contoh, danpertanyaan pemantik. Apabila seorang guru ingin melihat tujuan yang ingin dicapai, makastrategi scaffolding dapat disesuaikan dengan kebutuhan anak dalam pengembanganmetacognitive (metacognitive), kognitif (cognitive), dan sikap/tingkah laku/motivasi (affect).

Scaffolding berfungsi sebagai bantuan atau dorongan untuk meningkatkan rasa keingintahuan dan ketertarikan seorang anak dalam menyelesaikan tugas atau masalah, menurunkan level kesulitan tugas yang sesuai dengan kemampuan kompetensi seorang anak ketika dia bisa berhasil menyelesaikan masalah secara mandiri (reduction in degrees of freedom), memonitor arah dan tujuan pembelajaran dalam menyelesaikan tugas agar tetap konsisten (maintenance the direction), membuat indikasi perbedaan antara kompetensi yang diinginkan dan yang telah dicapai dalam proses belajar anak sebagai kegiatan refleksi dan evaluasi (marking critical features), mengontrol level kesulitan masalah atau tugas sehingga motivasi dan keinginan belajar tidak hilang dalam proses kolaborasi orang dewasa dan anak (control on the child’s level frustration), dan demonstrasi, meniru, atau imitasi (modeling) dengan menitikberatkan pada cara-cara penyelesaian masalah secara umum dengan formula atau konsep sehingga seorang anak dapat memiliki ruang independen untuk melakukan aksi atau tindakan secara mandiri.

Dalam ruang kolaborasi saya telah berdiskusi dan mempelajari lebih lanjut bersama teman-teman kelompok saya tentang pandangan masing-masing terkait konsep Scaffolding pada Zone Of Proximal Development (ZPD). Melalui kegiatan tersebut, membantu saya mengetahui pemberian scaffolding pada kesulitan belajar peserta didik dengan sudut pandang yang berbeda-beda. Hasil diskusi disajikan dan dipresentasikan dalam bentuk yang menarik, lebih lanjut diskusi dilakukan bersama dosen dan teman-teman kelas pada tahap demonstrasi kontekstual. Melalui tahap ini saya lebih memahami bahwa scaffolding bukan hanya dapat diberikan oleh guru, namun juga dapat diberikan oleh orang tua dan teman sejawat dalam kelas. Selain itu dalam memberikan bimbingan dan arahan kepada peserta didik yang sedang dalam tahap belajar, guru harus memiliki keterampilan sosial emosional seperti kesabaran, empati, dan ketekunan.

Berdasarkan yang sudah saya pahami pada topik ini, saya lebih memahami bahwa strategi, metode, dan juga teknik pembelajaran scaffolding  pada ZPD, banyak hal yang harus dipersiapkan oleh guru dalam melaksanakan pembelajaran. Guru juga harus memperhatikan karakteristik dari peserta didik dan kebutuhan belajar peserta didik sesuai dengan kebutuhan belajarnya. pembelajaran yang berpusat pada peserta didik tidak hanya memberikan kebebasan dalam belajar namun dalam pembelajaran peserta didik tetap diberikan arahan, bimbingan, dan pelatihan oleh guru. Selain itu dengan memahami perkembangan pemahaman peserta didik, guru harus memastikan bahwa tantangan belajar yang diberikan berada di dalam peserta didik. Hal yang ingin saya pelajari lebih lanjut adalah bagaiman guru dapat memastikan setiap peserta didik mendapatkan bantuan atau scaffolding sesuai dengan ZPD tanpa mengabarkan kebutuhan belajar peserta didik dan bagaimana seorang guru dapat memastikan aspek pada pembelajaran melalui scaffolding pada ZPD sudah sesuai dengan kebutuhan belajar peserta didik.

Hal yang sudah saya pelajari pada koneksi antar materi pada mata kuliah ini dengan mata kuliah lain adalah strategi, metode, dan juga teknik pembelajaran scaffolding  pada ZPD dengan mempertimbangkan karakteristik peserta didik yang meliputi latar belakang, pemahaman, kebutuhan, dan lainnya. Pada koneksi antara materi, saya juga mengaitkan beberapa mata kuliah yang saling berkaitan dengan pemahaman peserta didik dan pembelajaran. Saya memahami bahwa materi ini berkaitan dengan materi filosofi pendidikan, pemahaman peserta didik dan pembelajarannya, perspektif sosiokultural dalam pendidikan Indonesia, serta prinsip pembelajaran dan asesmen.

Koneksi antara strategi, metode, dan juga teknik pembelajaran scaffolding  pada ZPD dengan filosofi pendidikan yakni pemberian scaffolding memberikan ruang bagi siswa untuk berkembang secara personal, sesuai dengan potensi dan kecepatan mereka masing-masing selaras dengan filosofi pendidikan Indonesia dimana Pendidikan yang bersifat mendukung dan mendorong kemandirian siswa, sesuai dengan ajaran Ki Hajar Dewantara. Kaitan antara strategi, metode, dan juga teknik pembelajaran scaffolding  pada ZPD dengan pembelajaran berdiferensiasi yakni dalam pembelajaran berdiferensiasi, scaffolding digunakan untuk memberikan dukungan yang spesifik kepada peserta didik sesuai dengan profil belajarnya, membantu mereka mencapai tujuan belajar secara optimal. Scaffolding menjadi alat strategis dalam pembelajaran berdiferensiasi, sesuai ZPD masing-masing peserta didik.

Keterkaitan antara strategi, metode, dan juga teknik pembelajaran scaffolding  pada ZPD dengan pemahaman pesert didik dan pembelajarannya yakni Scaffolding berperan penting dalam membangun pemahaman peserta didik dengan memberikan bimbingan yang sesuai kebutuhan mereka hingga mereka mampu memahami materi secara mandiri.  dan mengembangkan kemampuan berpikir kritis serta mandiri. Dengan scaffolding, pemahaman siswa tidak hanya bersifat sementara, tetapi juga mendalam dan aplikatif. Sedangkan keterkaitan antara strategi, metode, dan juga teknik pembelajaran scaffolding  pada ZPD dengan prinsip pengajaran dan asesmen yakni Scaffolding menggunakan hasil asesmen sebagai umpan balik untuk memperbaiki proses belajar, hasil asesmen juga untuk menentukan jenis dan tingkat dukungan yang diperlukan siswa pada tahap tertentu dan menyesuaikan pendekatan pengajaran agar siswa tetap berada dalam zone of proximal development (ZPD).

Manfaat pembelajaran perspektif sosiokultural untuk kesiapan saya sebagai guru yakni dengan berfokus pada pemberian bimbingan dan arahan kepada peserta didik berdasarkan karakteristik mereka. Kesiapan saya saat ini berada pada skala 8 dari 10. Karena saya menyadari bahwa strategi, metode, dan juga teknik pembelajaran scaffolding  pada ZPD membutuhkan pemahaman lebih lanjut sehingga dapat melaksanakan pembelajaran secara optimal dan tujuan pembelajaran dapat tercapai secara maksimal. Hal yang perlu saya persiapkan lebih lanjut untuk menerapkan dengan optimal strategi, metode, dan juga teknik pembelajaran scaffolding  pada ZPD adalah mengidentifikasi kebutuhan belajar peserta sehingga dapat memberikan bimbingan dan arahan yang tepat untuk meningkatkan potensi setiap peserta didik dan untuk memberikan pembelajaran yang optimal dan pengalaman belajar yang bermakna bagi peserta didik.

    

Senin, 25 November 2024

AKSI NYATA TOPIK 4 - PERSPEKTIF SOSIOKULTURAL DALAM PENDIDIKAN INDONESIA "PEMBELAJARAN PADA ZONE OF PROXIMAL DEVELOPMENT (ZPD)"

 

    Pada mata kuliah Perspektif Sosio-kultural dalam Pendidikan Indonesia topik 4 ini membahas tentang Pembelajaran pada ‘Zone Of Proximal Development (ZPD). Pada kesempatan ini saya akan melakukan refleksi pembelajaran pada Topik 4. Hal yang saya pikirkan adalah pada topik ini saya akan mempelajari tentang pembelajaran pada ZPD

    Pada ruang mulai dari diri ini sebelum memulai proses pembelajaran yang saya pikirkan tentang ZPD ini guru memberikan bimbingan dan arahan kepada peserta didik untuk mencapai tujuan pembelajaran dengan maksimal. Pembelajaran dimulai dengan saya merefleksi pengalaman saya bekerja dalam sebuah tim. Pengalaman-pengalaman baru ketika berinteraksi dan bekerja sama dengan orang lain. Saya juga proses belajar yang terjadi pada manusia dari kecil sampai dewasa. Proses belajar setiap fase mulai dari bayi hingga dewasa, manusia dalam proses belajarnya selain diarahkan, dibimbing, dan diajari oleh orang lain baik dari kelurga terdekat maupun masyarakat disekitar lingkungannya, dalam proses belajarnya manusia juga dapat bekerja secara mandiri dalam proses perkembangannya melalui eksplorasi diri, belajar melalui pengalaman, dan mengembangkan keterampilan tertentu. Selain itu, terdapat video melatih interaksi sosial anak dalam autisme, dukungan dari keluarga, guru, dan teman sebaya sangat berpengaruh dalam perkembangan sosial dan interaksi dengan orang lain bagi anak autisme. 

    Guru memahami dan mempertimbangkan latar belakang, karakter, kebutuhan, perkembangan, dan pemahaman peserta didik, sehingga dapat menyusun tujuan yang ingin dicapai peserta didik selama proses pembelajaran. Guru memberikan bimbingan dan arahan kepada peserta didik dalam tingkatan pemahaman aktual (tingkat pemahaman peserta didik) hingga mencapai pemahaman yang diinginkan. Guru dan orang tua menggunakan simbol, gambar dengan keterangan tertulis sebagai scaffolding untuk membantu memberikan arahan sehingga tujuan pemahaman dapat dicapai.

    Pada topik 4 ini menjelaskan pada Zone Of Proximal Development (ZPD) berfokus pada hubungan kolaborasi antara manusia yang dipahami dalam konteks sosial, budaya, dan latar belakangnya. Dalam pembelajaran pada ZPD memiliki peran besar pada proses dan capaian hasil belajar peserta didik. Guru memahami dan mempertimbangkan latar belakang, karakter, kebutuhan, perkembangan, dan pemahaman peserta didik, sehingga dapat menyusun tujuan yang ingin dicapai peserta didik selama proses pembelajaran. Guru memberikan bimbingan dan arahan kepada peserta didik dalam tingkatan pemahaman aktual (tingkat pemahaman peserta didik) hingga mencapai pemahaman yang diinginkan. Dengan demikian kolaborasi antara peserta didik dan guru yang baik dan positif sangat diperlukan untuk meningkatkan potensi peserta didik. 

    Berdasarkan pemaparan di atas, saya mempelajari bahwa pembelajaran pada ZPD juga memperhatikan karakteristik peserta didik dalam sehingga dapat menciptakan pembelajaran yang memenuhi kebutuhan dan berpusat pada peserta didik dengan bimbingan ahli (pendidik). ZPD memiliki tiga aspek yakni komponen yang menjadi dasar perhatian yaitu aspek kemampuan anak secara aktual (generality assumption), aspek asistensi atau mediasi dimana terjadi kolaborasi dengan orang dewasa maupun rekan sebaya (assistance assumption), dan aspek potensi kemampuan setelah terjadi kolaborasi (potential assumption).

    ZPD memiliki dua tingkat perkembangan, yaitu: Tingkat perkembangan aktual, yaitu kemampuan pemecahan masalah secara mandiri, Tingkat perkembangan potensial, yaitu kemampuan pemecahan masalah yang dapat dicapai dengan bantuan orang lain. Konsep ZPD dapat diterapkan dalam pembelajaran kolaboratif. Salah satu teknik yang berkaitan dengan ZPD adalah scaffolding, yaitu teknik untuk mengubah level dukungan selama proses pengajaran. Guru dapat memberikan bantuan berupa petunjuk, peringatan, dorongan, atau menguraikan masalah ke dalam bentuk lain

    Dalam ruang kolaborasi saya telah berdiskusi dan mempelajari lebih lanjut bersama teman-teman kelompok saya tentang pandangan masing-masing terkait pembelajaran pada Zone Of Proximal Development (ZPD) dalam kegiatan pembelajaran. Melalui kegiatan tersebut, membantu saya mengetahui ZPD dengan sudut pandang yang berbeda-beda. Hasil diskusi disajikan dan dipresentasikan dalam bentuk yang menarik, lebih lanjut diskusi dilakukan bersama dosen dan teman-teman kelas pada tahap demonstrasi kontekstual. Melalui tahap ini saya lebih memahami bahwa pembelajaran dalam ZPD juga mempertimbangkan latar belakang peserta didik agar menciptakan pembelajaran yang lebih efektif. Selain itu dalam memberikan bimbingan dan arahan kepada peserta didik yang sedang dalam tahap belajar, guru harus memiliki keterampilan sosial emosional seperti kesabaran, empati, dan ketekunan.

    Berdasarkan yang sudah saya pahami pada topik ini, saya menjadi lebih memahami bahwa pembelajaran yang berpusat pada peserta didik tidak hanya memberikan kebebasan dalam belajar namun dalam pembelajaran peserta didik tetap diberikan arahan, bimbingan, dan pelatihan oleh guru. Selain itu dengan memahami perkembangan pemahaman peserta didik, guru harus memastikan bahwa tantangan belajar yang diberikan berada di dalam ZPD peserta didik yang sedang belajar, yaitu berada pada tahap maksimal pemahaman peserta didik. Hal yang ingin saya pelajari lebih lanjut adalah bagaiman penerapan pembelajaran pada Zone of Proximal Development (ZPD) tidak memberikan dampak ketergantungan peserta didik terhadap bimbingan dan arahan dari guru.

    Hal yang sudah saya pelajari pada koneksi antar materi pada mata kuliah ini dengan mata kuliah lain adalah penerapan ZPD dalam pembelajaran dengan mempertimbangkan karakteristik peserta didik yang meliputi latar belakang, pemahaman, kebutuhan, dan lainnya. Pada koneksi antara materi, saya juga mengaitkan beberapa mata kuliah yang saling berkaitan dengan pemahaman peserta didik dan pembelajaran. Saya memahami bahwa materi ini berkaitan dengan materi filosofi pendidikan, pemahaman peserta didik dan pembelajarannya, perspektif sosiokultural dalam pendidikan Indonesia, serta prinsip pembelajaran dan asesmen. Keterkaitan materi tersebut bahwa memahami karakteristik peserta didik menjadi acuan dalam menyusun strategi pembelajaran yang memenuhi kebutuhan dan berpusat pada peserta didik. pemahaman peserta didik cenderung lebih dalam karena mereka ditantang sesuai dengan kemampuannya.Meningkatkan Pemahaman melalui Scaffolding, Menghubungkan Pengetahuan baru dan lama. ZPD juga berperan dengan guru sebagai fasilitator, yang tidak hanya menyampaikan materi, tetapi juga mendukung peserta didik dalam memahami dan menginternalisasi pengetahuan secara aktif. Dengan demikian,pembelajaran menjadi lebih bermakna dan relevan bagi peserta didik dan juga lebih optimal. 

    Keterkaitan ZPD dengan filosofi pendidikan Indonesia yakni Filosofi pendidikan di Indonesia menekankanpada pendekatan yang berpusat padapeserta didik. Pendidikan harus disesuaikandengan kebutuhan dan kemampuan pesertadidik. ZPD memberikan dasar teoritis, konsepZPD mengajarkan pentingnya memberikantantangan yang tepat dan dukungan yangsesuai kepada siswa agar mereka dapatberkembang sesuai dengan potensi mereka.Dengan memahami ZPD, guru dapat memberikan bantuan yang sesuai dengan kebutuhan individu siswa, sehingga proses pembelajaran lebih efektif dan bermakna. Selain itu, keterkaitan dengan pembelajaran berdiferensiasi dimana bertujuan menyediakan pengalaman belajar yang sesuai dengan tingkat perkembangan masing-masing peserta didik. 

    Dengan memahami ZPD mereka,guru dapat merancang strategi belajar yangsesuai. Guru dapat memberikan scaffoldingyang berbeda kepada setiap peserta didik. Strategi pembelajaran harus disesuaikandengan kebutuhan dalam ZPD peserta didik,pembelajaran dapat dilakukan dengandiferensiasi konten, proses, maupun produk. Sedangkan dengan prinsip pengajaran dan asesmen yakni ZPD membantumengarahkan bagaimanaasesmen dilakukan untukmendukung perkembanganpeserta didik. Dalam ZPD,penting untuk menilai prosespembelajaran, mengukurperkembangan belajar, dansesuai dengan tingkatperkembangan peserta didik.Dengan memadukan ZPDpeserta didik, asesmenmenjadi alat untukmemahami dan memperkuatproses belajar peserta didik.

    
Manfaat mempelajari perspektif sosiokultural membantu saya memahami pentingnya pembelajaran pada ZPD dengan berfokus pada pemberian bimbingan dan arahan kepada peserta didik berdasarkan karakteristik mereka. Kesiapan saya saat ini berada pada skala 8 dari 10. Karena saya menyadari bahwa pembelajaran pada ZPD membutuhkan pemahaman lebih lanjut tentang ZPD itu sendiri serta perlu membangun hubungan yang baik dan positif dengan peserta didik. Hal yang perlu saya persiapkan lebih lanjut untuk menerapkan dengan optimal pembelajaran pada ZPD adalah mengidentifikasi kebutuhan belajar peserta sehingga dapat memberikan bimbingan dan arahan yang tepat untuk meningkatkan potensi setiap peserta didik. Selain itu, menyusun strategi pembelajaran yang dapat memenuhi kebutuhan dan berpusat pada peserta didik sehingga terciptanya pembelajaran yang efektif dan bermakna.

 

 

 

Senin, 16 September 2024

AKSI NYATA TOPIK 1 PERSPEKTIF SOSIOKULTURAL DALAM PENDIDIKAN DI INDONESIA

 

        Pada mata kuliah Perspektif Sosiokultural dalam Pendidikan di Indonesia terdiri Topik 1 ini membahas tentang Pengantar Perspektif Sosial, Budaya, Ekonomi, dan Politik dalam Pendidikan Indonesia

        Pada kesempatan ini saya akan melakukan refleksi pembelajaran pada Topik 1 yaitu Pengantar Perspektif Sosial, Budaya, Ekonomi, dan Politik dalam Pendidikan Indonesia. Berdasarkan judul pada Topik 1, yang dipelajari adalah bagaimana pengaruh perseptif sosial, budaya, ekonomi, dan politik pada sistem pendidikan di Indonesia. Sebagai calon guru, melalui topik ini saya akan belajar memahami peserta didik sesuai dengan latar belakang sosial, budaya, dan ekonomi yang berbeda-beda.



   Pada alur mulai diri, banyak hal yang saya pelajari. Refleksi dimulai dengan pembelajaran dengan melihat pengalaman pribadi melalui beberapa pertanyaan pemantik bagaimana struktur sosial masyarakat di sekitar lingkungan tempat tinggal dan perbedaan kondisi lingkungan disekitar tempat tinggal. Hal yang saya pahami dari alur ini adalah dengan mengenal kondisi lingkungan dan struktur sosial masyarakat di sekitar tempat tinggal dapat membuat seseorang lebih memahami karakteristik dari lingkungan, tatanan masyarakat dan karakteristik masyarakat yang bertempat di lingkungan tersebut.

        Pada tahap eksplorasi konsep melalui tayangan video dan beberapa pertanyaan banyak hal yang saya pelajari pada Topik ini. Hal yang saya pahami pada topik ini adalah terdapat pengaruh faktor sosial, budaya, ekonomi, dan politik dalam proses pendidikan dari zaman sebelum merdeka hingga saat ini. Sejarah perjalanan pendidikan sebelum kemerdekaan, menggambarkan penyelenggaraan pendidikan yang terbatas dan pendidikan tidak bertujuan untuk mencerdaskan masyarakat Indonesia tetapi untuk mempertahankan kekuasaan dan kepentingan pemerintahan Belanda maupun Jepang. Sekolah-sekolah yang didirikan beberapa bupati pada masa penjajahan kolonial Belanda menginisiasi sekolah-sekolah untuk calon pegawai di Kabupaten. Sistem pendidikan yang sepenuhnya di atur oleh pemerintahan Belanda dan Jepang, menjadikan pemerintahan penjajah secara leluasa mengintegrasikan budaya kolonial dan Jepang pada masyarakat Indonesia. Sekolah Bumi putera yang didirikan pada masa itu yang hanya terdiri dari tiga kelas pun hanya mengajarkan membaca, menulis, dan berhitung seperlunya saja. Pada masa itu juga, Ki Hajar Dewantara sebagai Bapak Pendidikan di Indonesia mendirikan sekolah Taman Siswa dengan tujuan ingin memajukan pendidikan di Indonesia hingga saat ini setelah Indonesia Merdeka, walaupun dalam prosesnya pendidikan Indonesia tidak terlepas dari pengaruh faktor sosial, budaya, ekonomi dan politik.

        Pada alur Ruang kolaborasi, saya berdiskusi dengan teman-teman kelompok tentang 5 video inspirasi dalam pendidikan di berbagai daerah di Indonesia. Setelah menyimak video yang disajikan, kami memahami bahwa pendidikan di Indonesia masih belum merata dalam penerapan sarana dan prasarana. Kami menyadari bahwa pembelajaran tidak hanya berindikasi pada ruang kelas dan buku, namun seorang guru dapat memanfaatkan lingkungan sebagai sumber dan media pembelajaran yang tiada batas. Dengan menyesuaikan karakteristik peserta didik dan mengintegrasikan sosial-budaya dalam pembelajaran, guru dapat menciptakan pembelajaran yang interaktif dan bermakna serta penuh semangat. Berdasarkan video-video yang ditampilkan, dapat dilihat bahwa aspek sosial, budaya, ekonomi, dan politik memberikan pengaruh terhadap pelaksanaan pendidikan di Indonesia bahkan dalam ruang lingkung yang lebih kecil yaitu dalam kelas.

    Melalui demonstrasi kontekstual, saya memperoleh pengalaman belajar yang bermakna ketika berdiskusi dengan teman-teman yang memiliki pengalaman, pemikiran, dan pengetahuan yang berbeda-beda. Diskusi yang kami lakukan bersama mencapai kesepakatan untuk menyelesaikan tugas dan disajikan dalam bentuk yang menarik sehingga mudah untuk dipahami. Melalui proses ini menjadi wadah untuk saya dan teman-teman mengembangkan keterampilan komunikasi dan kolaborasi yang baik dengan teman kelompok, teman sekelas, maupun dosen. Presentasi yang dilakukan oleh kelompok lain sebagai pembuka diskusi yang kami lakukan dalam kelas. kegiatan saling mengajukan pertanyaan dan memberikan tanggapan antar kelompok dan individu mampu mengembangkan keterampilan berpikir kritis, analitis, dan komunikasi yang menjadi pengalaman yang bermakna pada demonstrasi kontekstual ini.

    Pada alur elaborasi pemahaman, saya memahami bahwasanya Pendidikan multikulturalisme menanamkan pentingnya menyadari dan menghargai keberagaman setiap individu (peserta didik). Keberagaman dapat meliputi etnis, suku, budaya dan latar belakang yang menjadi identitas dari setiap individu. Sebagai calon guru harus mampu mengintegrasikan pemahaman bahwa terdapat perbedaan setiap peserta didik dalam kegiatan pembelajaran sehingga dapat menciptakan lingkungan belajar yang positif. Dengan demikian guru secara tidak langsung menekankan sikap dan perilaku bertanggung jawab, menghargai, dan menghormati pada peserta didik.

        Pemahaman baru yang saya dapatkan, yakni guru memiliki peran yang sangat penting dalam mendorong perubahan di dunia pendidikan. Saya juga lebih menyadari bahwa aspek seperti sosial, budaya, ekonomi, dan politik memberikan pengaruh yang cukup besar dalam pendidikan. Dengan memahami konteks tersebut, memberikan pandangan yang lebih dalam pada saya terkait merancang pembelajaran dengan lebih efektif untuk menanggapi perbedaan setiap peserta didik. Hal yang ingin saya pelajari lebih lanjut adalah bagaimana cara menerapkan konsep-konsep dalam perspektif sosiokultural ini dalam merancang dan melaksanakan strategi pembelajaran yang dapat mendukung keberagaman peserta didik dalam proses pembelajaran

     Pada alur Koneksi antar materi, Kaitan perspektif sosiologi dengan materi pemahaman peserta didik dan pembelajarannya adalah Peserta didik memiliki latar belakang sosial, budaya, ekonomi dan politik yang berbeda-beda sehingga guru harus mampu memahami karakteristik setiap peserta didik dengan baik agar terciptanya pembelajaran yang efektif dan berpusat pada peserta didik. Guru dapat menciptakan suasana belajar peserta didik yang sesuai dengan lingkungannya. Dan guru dapat memahami kebutuhan, kesiapan, dan kesesuaian masing-masing peserta didik sesuai dengan karakteristinya. Koneksi antara perspektif sosiokulitural dan prinsip pengajaran serta asesmen di pendidikan Indonesia sangat penting untuk menciptakan lingkungan belajar yang inklusif dan relevan bagi semua siswa. Dengan memperhatikan latar belakang sosial dan budaya siswa, pendidik dapat merancang pengalaman belajar yang lebih efektif dan bermakna. Kaitan perspektif sosiokultural dengan pembelajaran berdiferensiasi terletak pada kemampuan guru untuk memahami dan menghargai keberagaman, karakteristik dan latar belakang peserta didik serta menyesuaikan strategi pembelajaran yang digunakan agar lebih inklusif dan efektif. Dengan demikian guru mampu memberikan pengalaman pembelajaran yang bermakna dan berharga kepada peserta didik sesuai dengan kebutuhan masing-masing peserta didik.

    Manfaat saya mempelajari topik ini untuk kesiapan saya menjadi guru adalah mendapatkan pengetahuan dan pengalaman belajar selam proses pembelajaran pada topik ini. Melalui diskusi dan video yang disajikan membuat saya sadar bahwa aspek sosial, budaya, ekonomi, dan politik memberikan pengaruh terhadap pendidikan dan pembelajaran. Guru tidak hanya mentransfer pengetahuan, tetapi juga sebagai mediator yang menjadi jembatan peserta didik kepada pengetahuan, keterampilan, dan karakter yang baik. Guru juga sebagai fasilitator peserta didik dalam memberikan pembelajaran yang lebih inovatif dan kreatif. Selain itu dalam proses pembelajaran guru harus menyiapkan pendekatan dan strategi pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik dan latar belakang peserta didik, sehingga dapat menciptakan pembelajaran yang efektif, relevan, dan berpusat pada peserta didik.