Pada mata kuliah Perspektif Sosio-kultural dalam Pendidikan Indonesia topik 5 ini membahas tentang Scaffolding pada Zone Of Proximal Development (ZPD). Pada kesempatan ini saya akan melakukan refleksi pembelajaran pada Topik 5. Hal yang saya pikirkan adalah pada topik ini saya akan mempelajari tentang Scaffolding pada Zone Of Proximal Development (ZPD).
Pada alur mulai dari diri ini sebelum memulai proses
pembelajaran yang saya pikirkan tentang scaffolding yakni scaffolding sebagai
bantuan yang diberikan kepada peserta didik untuk mencapai tujuan pembelajaran
dengan maksimal. Scaffolding
yang diberikan oleh guru disesuaikan dengan kemampuan kognitif peserta didik. Pada
alur ini mengajak saya untuk merefleksi diri pada saat menjadi seorang pelajar
kesulitan belajar yang saya alami pada saat pembelajaran mendapatkan bantuan
dari guru untuk dapat mencapai tujuan pembelajaran secara maksimal.
Pada topik 5 ini menjelaskan Scaffolding menitikberatkan proses interaksi yang dilakukan oleh orang guru selama tahap awal pembelajaran, kemudian mengurangi bantuan tersebut ketika siswa mampu mengerjakan sendiri. Guru memberikan bimbingan dan arahan kepada peserta didik dalam tingkatan pemahaman aktual (tingkat pemahaman peserta didik) hingga mencapai pemahaman yang diinginkan. Berdasarkan media scaffolding, terdapat 6 macam strategi yaitu pemberiansaran/masukan, petunjuk, instruksi, pemaparan/penjelasan, model atau contoh, danpertanyaan pemantik. Apabila seorang guru ingin melihat tujuan yang ingin dicapai, makastrategi scaffolding dapat disesuaikan dengan kebutuhan anak dalam pengembanganmetacognitive (metacognitive), kognitif (cognitive), dan sikap/tingkah laku/motivasi (affect).
Scaffolding berfungsi sebagai bantuan atau dorongan untuk meningkatkan rasa keingintahuan dan ketertarikan seorang anak dalam menyelesaikan tugas atau masalah, menurunkan level kesulitan tugas yang sesuai dengan kemampuan kompetensi seorang anak ketika dia bisa berhasil menyelesaikan masalah secara mandiri (reduction in degrees of freedom), memonitor arah dan tujuan pembelajaran dalam menyelesaikan tugas agar tetap konsisten (maintenance the direction), membuat indikasi perbedaan antara kompetensi yang diinginkan dan yang telah dicapai dalam proses belajar anak sebagai kegiatan refleksi dan evaluasi (marking critical features), mengontrol level kesulitan masalah atau tugas sehingga motivasi dan keinginan belajar tidak hilang dalam proses kolaborasi orang dewasa dan anak (control on the child’s level frustration), dan demonstrasi, meniru, atau imitasi (modeling) dengan menitikberatkan pada cara-cara penyelesaian masalah secara umum dengan formula atau konsep sehingga seorang anak dapat memiliki ruang independen untuk melakukan aksi atau tindakan secara mandiri.
Dalam ruang kolaborasi saya telah berdiskusi dan mempelajari lebih lanjut bersama teman-teman kelompok saya tentang pandangan masing-masing terkait konsep Scaffolding pada Zone Of Proximal Development (ZPD). Melalui kegiatan tersebut, membantu saya mengetahui pemberian scaffolding pada kesulitan belajar peserta didik dengan sudut pandang yang berbeda-beda. Hasil diskusi disajikan dan dipresentasikan dalam bentuk yang menarik, lebih lanjut diskusi dilakukan bersama dosen dan teman-teman kelas pada tahap demonstrasi kontekstual. Melalui tahap ini saya lebih memahami bahwa scaffolding bukan hanya dapat diberikan oleh guru, namun juga dapat diberikan oleh orang tua dan teman sejawat dalam kelas. Selain itu dalam memberikan bimbingan dan arahan kepada peserta didik yang sedang dalam tahap belajar, guru harus memiliki keterampilan sosial emosional seperti kesabaran, empati, dan ketekunan.
Berdasarkan yang sudah saya pahami pada topik ini, saya lebih memahami
bahwa strategi, metode, dan juga teknik pembelajaran scaffolding pada ZPD, banyak hal yang harus dipersiapkan
oleh guru dalam melaksanakan pembelajaran. Guru juga harus memperhatikan
karakteristik dari peserta didik dan kebutuhan belajar peserta didik sesuai
dengan kebutuhan belajarnya. pembelajaran yang berpusat pada peserta didik
tidak hanya memberikan kebebasan dalam belajar namun dalam pembelajaran peserta
didik tetap diberikan arahan, bimbingan, dan pelatihan oleh guru. Selain itu
dengan memahami perkembangan pemahaman peserta didik, guru harus memastikan
bahwa tantangan belajar yang diberikan berada di dalam peserta didik. Hal yang
ingin saya pelajari lebih lanjut adalah bagaiman guru dapat memastikan setiap
peserta didik mendapatkan bantuan atau scaffolding sesuai dengan ZPD tanpa
mengabarkan kebutuhan belajar peserta didik dan bagaimana seorang guru dapat
memastikan aspek pada pembelajaran melalui scaffolding pada ZPD sudah sesuai
dengan kebutuhan belajar peserta didik.
Hal yang sudah saya pelajari pada koneksi antar materi pada mata kuliah ini
dengan mata kuliah lain adalah strategi, metode, dan juga teknik pembelajaran scaffolding
pada ZPD dengan mempertimbangkan
karakteristik peserta didik yang meliputi latar belakang, pemahaman, kebutuhan,
dan lainnya. Pada koneksi antara materi, saya juga mengaitkan beberapa mata
kuliah yang saling berkaitan dengan pemahaman peserta didik dan pembelajaran.
Saya memahami bahwa materi ini berkaitan dengan materi filosofi pendidikan,
pemahaman peserta didik dan pembelajarannya, perspektif sosiokultural dalam
pendidikan Indonesia, serta prinsip pembelajaran dan asesmen.
Koneksi antara strategi, metode, dan juga teknik pembelajaran scaffolding pada ZPD dengan filosofi pendidikan yakni pemberian
scaffolding memberikan ruang bagi siswa untuk berkembang secara personal,
sesuai dengan potensi dan kecepatan mereka masing-masing selaras dengan
filosofi pendidikan Indonesia dimana Pendidikan yang bersifat mendukung dan
mendorong kemandirian siswa, sesuai dengan ajaran Ki Hajar Dewantara. Kaitan antara
strategi, metode, dan juga teknik pembelajaran scaffolding pada ZPD dengan pembelajaran berdiferensiasi
yakni dalam pembelajaran berdiferensiasi, scaffolding digunakan untuk
memberikan dukungan yang spesifik kepada peserta didik sesuai dengan profil
belajarnya, membantu mereka mencapai tujuan belajar secara optimal. Scaffolding
menjadi alat strategis dalam pembelajaran berdiferensiasi, sesuai ZPD
masing-masing peserta didik.
Keterkaitan antara strategi, metode, dan juga teknik pembelajaran scaffolding
pada ZPD dengan pemahaman pesert didik
dan pembelajarannya yakni Scaffolding berperan penting dalam membangun
pemahaman peserta didik dengan memberikan bimbingan yang sesuai kebutuhan
mereka hingga mereka mampu memahami materi secara mandiri. dan mengembangkan kemampuan berpikir kritis
serta mandiri. Dengan scaffolding, pemahaman siswa tidak hanya bersifat
sementara, tetapi juga mendalam dan aplikatif. Sedangkan keterkaitan antara strategi,
metode, dan juga teknik pembelajaran scaffolding pada ZPD dengan prinsip pengajaran dan asesmen
yakni Scaffolding menggunakan hasil asesmen sebagai umpan balik untuk
memperbaiki proses belajar, hasil asesmen juga untuk menentukan jenis dan
tingkat dukungan yang diperlukan siswa pada tahap tertentu dan menyesuaikan
pendekatan pengajaran agar siswa tetap berada dalam zone of proximal
development (ZPD).
Manfaat pembelajaran perspektif sosiokultural untuk kesiapan saya sebagai guru yakni dengan berfokus pada pemberian bimbingan dan arahan kepada peserta didik berdasarkan karakteristik mereka. Kesiapan saya saat ini berada pada skala 8 dari 10. Karena saya menyadari bahwa strategi, metode, dan juga teknik pembelajaran scaffolding pada ZPD membutuhkan pemahaman lebih lanjut sehingga dapat melaksanakan pembelajaran secara optimal dan tujuan pembelajaran dapat tercapai secara maksimal. Hal yang perlu saya persiapkan lebih lanjut untuk menerapkan dengan optimal strategi, metode, dan juga teknik pembelajaran scaffolding pada ZPD adalah mengidentifikasi kebutuhan belajar peserta sehingga dapat memberikan bimbingan dan arahan yang tepat untuk meningkatkan potensi setiap peserta didik dan untuk memberikan pembelajaran yang optimal dan pengalaman belajar yang bermakna bagi peserta didik.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar