Pada mata kuliah Perspektif Sosiokultural dalam Pendidikan di Indonesia
terdiri Topik 1 ini membahas tentang Pengantar Perspektif Sosial, Budaya,
Ekonomi, dan Politik dalam Pendidikan Indonesia
Pada kesempatan ini saya akan melakukan refleksi pembelajaran pada Topik 1
yaitu Pengantar Perspektif Sosial, Budaya, Ekonomi, dan Politik dalam
Pendidikan Indonesia. Berdasarkan judul pada Topik 1, yang dipelajari adalah
bagaimana pengaruh perseptif sosial, budaya, ekonomi, dan politik pada sistem
pendidikan di Indonesia. Sebagai calon guru, melalui topik ini saya akan
belajar memahami peserta didik sesuai dengan latar belakang sosial, budaya, dan
ekonomi yang berbeda-beda.
Pada alur mulai diri, banyak hal yang saya pelajari. Refleksi dimulai dengan pembelajaran dengan melihat pengalaman pribadi melalui beberapa pertanyaan pemantik bagaimana struktur sosial masyarakat di sekitar lingkungan tempat tinggal dan perbedaan kondisi lingkungan disekitar tempat tinggal. Hal yang saya pahami dari alur ini adalah dengan mengenal kondisi lingkungan dan struktur sosial masyarakat di sekitar tempat tinggal dapat membuat seseorang lebih memahami karakteristik dari lingkungan, tatanan masyarakat dan karakteristik masyarakat yang bertempat di lingkungan tersebut.
Pada tahap eksplorasi konsep melalui tayangan video dan beberapa pertanyaan
banyak hal yang saya pelajari pada Topik ini. Hal yang saya pahami pada topik
ini adalah terdapat pengaruh faktor sosial, budaya, ekonomi, dan politik dalam
proses pendidikan dari zaman sebelum merdeka hingga saat ini. Sejarah
perjalanan pendidikan sebelum kemerdekaan, menggambarkan penyelenggaraan
pendidikan yang terbatas dan pendidikan tidak bertujuan untuk mencerdaskan
masyarakat Indonesia tetapi untuk mempertahankan kekuasaan dan kepentingan
pemerintahan Belanda maupun Jepang. Sekolah-sekolah yang didirikan beberapa
bupati pada masa penjajahan kolonial Belanda menginisiasi sekolah-sekolah untuk
calon pegawai di Kabupaten. Sistem pendidikan yang sepenuhnya di atur oleh
pemerintahan Belanda dan Jepang, menjadikan pemerintahan penjajah secara
leluasa mengintegrasikan budaya kolonial dan Jepang pada masyarakat Indonesia. Sekolah
Bumi putera yang didirikan pada masa itu yang hanya terdiri dari tiga kelas pun
hanya mengajarkan membaca, menulis, dan berhitung seperlunya saja. Pada masa
itu juga, Ki Hajar Dewantara sebagai Bapak Pendidikan di Indonesia mendirikan
sekolah Taman Siswa dengan tujuan ingin memajukan pendidikan di Indonesia
hingga saat ini setelah Indonesia Merdeka, walaupun dalam prosesnya pendidikan
Indonesia tidak terlepas dari pengaruh faktor sosial, budaya, ekonomi dan
politik.
Pada alur Ruang kolaborasi, saya berdiskusi dengan teman-teman kelompok
tentang 5 video inspirasi dalam pendidikan di berbagai daerah di Indonesia. Setelah
menyimak video yang disajikan, kami memahami bahwa pendidikan di Indonesia
masih belum merata dalam penerapan sarana dan prasarana. Kami menyadari bahwa
pembelajaran tidak hanya berindikasi pada ruang kelas dan buku, namun seorang
guru dapat memanfaatkan lingkungan sebagai sumber dan media pembelajaran yang
tiada batas. Dengan menyesuaikan karakteristik peserta didik dan
mengintegrasikan sosial-budaya dalam pembelajaran, guru dapat menciptakan
pembelajaran yang interaktif dan bermakna serta penuh semangat. Berdasarkan
video-video yang ditampilkan, dapat dilihat bahwa aspek sosial, budaya,
ekonomi, dan politik memberikan pengaruh terhadap pelaksanaan pendidikan di
Indonesia bahkan dalam ruang lingkung yang lebih kecil yaitu dalam kelas.
Melalui demonstrasi kontekstual, saya memperoleh pengalaman belajar yang
bermakna ketika berdiskusi dengan teman-teman yang memiliki pengalaman,
pemikiran, dan pengetahuan yang berbeda-beda. Diskusi yang kami lakukan bersama
mencapai kesepakatan untuk menyelesaikan tugas dan disajikan dalam bentuk yang
menarik sehingga mudah untuk dipahami. Melalui proses ini menjadi wadah untuk
saya dan teman-teman mengembangkan keterampilan komunikasi dan kolaborasi yang
baik dengan teman kelompok, teman sekelas, maupun dosen. Presentasi yang
dilakukan oleh kelompok lain sebagai pembuka diskusi yang kami lakukan dalam
kelas. kegiatan saling mengajukan pertanyaan dan memberikan tanggapan antar
kelompok dan individu mampu mengembangkan keterampilan berpikir kritis,
analitis, dan komunikasi yang menjadi pengalaman yang bermakna pada demonstrasi
kontekstual ini.
Pada alur elaborasi pemahaman, saya memahami bahwasanya Pendidikan
multikulturalisme menanamkan pentingnya menyadari dan menghargai keberagaman
setiap individu (peserta didik). Keberagaman dapat meliputi etnis, suku, budaya
dan latar belakang yang menjadi identitas dari setiap individu. Sebagai calon
guru harus mampu mengintegrasikan pemahaman bahwa terdapat perbedaan setiap
peserta didik dalam kegiatan pembelajaran sehingga dapat menciptakan lingkungan
belajar yang positif. Dengan demikian guru secara tidak langsung menekankan
sikap dan perilaku bertanggung jawab, menghargai, dan menghormati pada peserta
didik.
Pemahaman baru yang saya dapatkan, yakni guru memiliki peran yang sangat
penting dalam mendorong perubahan di dunia pendidikan. Saya juga lebih
menyadari bahwa aspek seperti sosial, budaya, ekonomi, dan politik memberikan
pengaruh yang cukup besar dalam pendidikan. Dengan memahami konteks tersebut,
memberikan pandangan yang lebih dalam pada saya terkait merancang pembelajaran
dengan lebih efektif untuk menanggapi perbedaan setiap peserta didik. Hal yang
ingin saya pelajari lebih lanjut adalah bagaimana cara menerapkan konsep-konsep
dalam perspektif sosiokultural ini dalam merancang dan melaksanakan strategi
pembelajaran yang dapat mendukung keberagaman peserta didik dalam proses
pembelajaran
Pada alur Koneksi antar materi, Kaitan perspektif sosiologi dengan materi
pemahaman peserta didik dan pembelajarannya adalah Peserta didik memiliki latar
belakang sosial, budaya, ekonomi dan politik yang berbeda-beda sehingga guru
harus mampu memahami karakteristik setiap peserta didik dengan baik agar
terciptanya pembelajaran yang efektif dan berpusat pada peserta didik. Guru
dapat menciptakan suasana belajar peserta didik yang sesuai dengan
lingkungannya. Dan guru dapat memahami kebutuhan, kesiapan, dan kesesuaian
masing-masing peserta didik sesuai dengan karakteristinya. Koneksi antara
perspektif sosiokulitural dan prinsip pengajaran serta asesmen di pendidikan
Indonesia sangat penting untuk menciptakan lingkungan belajar yang inklusif dan
relevan bagi semua siswa. Dengan memperhatikan latar belakang sosial dan budaya
siswa, pendidik dapat merancang pengalaman belajar yang lebih efektif dan
bermakna. Kaitan perspektif sosiokultural dengan pembelajaran berdiferensiasi
terletak pada kemampuan guru untuk memahami dan menghargai keberagaman,
karakteristik dan latar belakang peserta didik serta menyesuaikan strategi
pembelajaran yang digunakan agar lebih inklusif dan efektif. Dengan demikian
guru mampu memberikan pengalaman pembelajaran yang bermakna dan berharga kepada
peserta didik sesuai dengan kebutuhan masing-masing peserta didik.
Manfaat saya mempelajari topik ini untuk kesiapan saya menjadi guru adalah
mendapatkan pengetahuan dan pengalaman belajar selam proses pembelajaran pada
topik ini. Melalui diskusi dan video yang disajikan membuat saya sadar bahwa aspek
sosial, budaya, ekonomi, dan politik memberikan pengaruh terhadap pendidikan
dan pembelajaran. Guru tidak hanya mentransfer pengetahuan, tetapi juga sebagai
mediator yang menjadi jembatan peserta didik kepada pengetahuan, keterampilan,
dan karakter yang baik. Guru juga sebagai fasilitator peserta didik dalam
memberikan pembelajaran yang lebih inovatif dan kreatif. Selain itu dalam
proses pembelajaran guru harus menyiapkan pendekatan dan strategi pembelajaran
yang sesuai dengan karakteristik dan latar belakang peserta didik, sehingga
dapat menciptakan pembelajaran yang efektif, relevan, dan berpusat pada peserta
didik.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar